Dunia Ini Pentas Sandiwara

Dunia ini pentas sandiwara
tiap lelaki, tiap perempuan pelakon semata
tiap sosok menyusur keluar, melunjur masuk
tiap watak bermain peran banyak adegan
babak usia semuanya tujuh kehitungan.
Sebermula diri adalah si bayi
perengek paling enek pengasuhnya membedungi.
Kemudian berubah si bocah cengeng
dengan beg di bahu dan wajah terbias matari
dia merangkak sembunyi seperti siput babi,
tak merelakan dirinya pergi mengaji.
Kemudian bergelar seorang pecinta
mengerang bak genahar, bergetar balada terduka
semahunya tegar menusuk mata dewi terpuja.
Kemudian menjadi sang parajurit
penuh dirinya dengan akujanji sulit
sepenuh bulu janggut singanya,
cemburunya pada maruah 
gegasnya pantas bertelagah
demi menagih sebuih harga peribadi
kendatipun di dalam mulut meriam.
Kemudian dirinya hakim paling bijaksana
dengan perut bulat disendati cerut paling nikmat
dengan tajam mata dan janggut paling rapi
khutbahnya disumbat sejuta hikmah peri terkini
begitulah dia menjulangrafakkan diri.
Babak keenam mendadak bertukar
tersarung tubuhnya dalam pelikat longgar
matanya landur ke hidung, dadanya kendur ke sisi
hanya baju pagodanya letak terjaga, oh dunia 
terlalu lebar untuk kelangkangnya yang sempit; 
dan suara gegar jantannya
kembali merengek paling enek
bersama busuk hembus keretek
dan siul dengkurnya paling serik.
Babak terakhir dari semua adegan
sebagai nokhtah tragik pementasan
adalah kebocahan kedua tak dipedulikan
tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa,
tanpa apa pun jua.

All The World’s A Stage
terj. Za’im Yusoff

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Media Sosial

Follow Bilik Penyair on WordPress.com
Bacaan lain
Timbunan Salji