Dalam Bencana

mereka pulang ke rumah
waktu subuh hari
dengan pakaian robek basah
menghampiri api tungku
lengan mereka penuh calar
kaki mereka penuh luka
tapi di kening mereka
tidak kelihatan rasa kecewa

sehari semalaman
mereka mengharungi banjir
berendam antara bangkai ternakan
dan serpihan kulit tumbuhan
kerbau balar punya si buyung
masih belum ditemui

mereka dilahirkan dalam bencana
tidak ada keluhan dan kutukan
kini mereka berjenaka di dapur
sambil menggulung rokok daun

Serpihan dari Pedalaman, 1979
Sistem Intermedia

Media Sosial

Follow Bilik Penyair on WordPress.com
Bacaan lain
Dipo Negoro