Hujan dalam Sajak (2)

Bayang pohon-pohonan bergoyang di kaca tingkap
yang tertutup. Di luar rumah malam ini hujan
tengah lebat dan sesekali angin membanting.
Kau kesenangan di dalam rumah. Ya, tidakkah
sekali kauingin mengenang waktu susah dulu;
waktu bersama ayahmu. Apabila hujan turun,
ayahmu berusaha menampung atap yang bocor.
Tetapi kaulihat lantai rumah tetap basah. Dan
apabila ayahmu meninggal, kau tak pandai berbuat
apa-apa lagi. Apabila hujan turun, seluruh lantai
rumahmu basah. Bagaimana kau bisa lena tidur?
Kini, betapa jauh masa beredar… Ya, tidakkah
sekali kauingin mengenang dan memasukkan hujan-
hujan itu ke dalam sajakmu?

Bulan Senja, 2002
Dewan Bahasa & Pustaka

Media Sosial

Follow Bilik Penyair on WordPress.com
Bacaan lain
Laut