Bunga Tulip Hutan

setiap malam deriaku menangkap rengek si anak
belibis meminta suap dari sang ibu yang telah
lama menggali tanah. tak pernah kutebak wabak
apakah yang menyengat sang ibu itu. aku hanya
tersedar tatkala inderaku tercium hanyir darah
dan mahing mesiu dari wap tanah dan tulang para
mayat. dan setiap malam juga seluruh mergastua
menyembunyikan suara ke rumput darah. tatkala
ini aku sang tulip hutan menyaksikan sarang
lalangnya disiat anginpohon, menggugurkan
serpihan luka ke kelopakku. saat begini aku
sang penjaga rimba seakan terleka mentafsir
duka hutan. si anak belibis, maafkan aku –
kuntumku tidak bisa membuahkan susu untuk
kauhirup sepuas mungkin dan kembali menari
berlari menyanyi bersunyi mencari berlirih
dengan paluan gamelan hutan petikan kecapi
pohon gesekan rebab cengkerik ketipang kuang
belekok serindit kunang-kunang layang-layang
di lorong-lorong banat ini

Katarsis, 1993
Dewan Bahasa & Pustaka

Media Sosial

Follow Bilik Penyair on WordPress.com
Bacaan lain
Sylvia Plath; Depresi dan Kematian Seorang Penyair