1.

setiap orang mengakhiri perjalanannya dengan muka tengadah. burung-burung selalu saja lintas di udara dari pohon-pohon lebat kenangan. dan dengan tangan yang dingin mereka usap muka mereka yang bercucuran: dunia sudah berdebu bukan? kota-kota mengerang. perempuan, kanak-kanak, lelaki – mereka berjalan bersama-sama. bunga-bunga sudah letih dari perlambang-perlambang cinta. dan mereka yang ingin menangkap kata-kata yang telah mereka ucapkan hanya memandang pada burung-burung yang selalu saja lintas di udara dari pohon-pohon lebat beban mereka.
naik turun piramid.

2.
                mereka berputar di timur mengalir ke utara ke selatan dan sayup di barat.
                lewat sebuah gurun.

3.
singkirkanlah mata hari dari langit, kata seorang di antara mereka.
hari siang terus, kata yang lain, tak ada malam sepanjang tahun dan kitapun tak sempat tidur.
lalu mereka menutup mata mereka dengan kain hitam.
bila seorang di antara mereka tak tahan, ia akan membuka matanya barang sebentar, tapi menutupnya kembali sebab dilihatnya sebuah jurang.
seorang anak berteriak: bulan, bulan, bulan sudah hitam! dan terhuyung di sebuah bukit.

4.
                tapi mereka tak bisa buta. mereka heran,
                ada api di puncak menara. mereka tak tahu.
                dan bila bintang-bintang yang gemerlapan berdering dalam piala malam yang tersimpan di saku seorang tiran, mereka yang berhenti berjalan dan mulai menghitung doa-doa yang dapat mereka ucapkan untuk menenangkan harapan dan keinginan mereka yang sudah meluap-luap.

5.
                aku terbaring di rumput dalam hutan. kadang ayahku ketawa bermain dengan capung. dan kadang ia menjelma sebuah pohon dalam hutan nenek moyangku yang sudah gundul. diselimuti sutra kuning pucat. ketika aku tidur tengah malam hutan kami terbakar.
                angin bertiup kencang.
                hei, siapa yang berlari membawa obor dalam hatiku?
                awas, banyak harimau di situ.

6.
adikku yang masih kecil menari.
ditarikannya derita orang coklat.
dengan darah dan kakinya.
sepanas kota jakarta.

7.
                amria berkata ingin menulis surat yang panjang dalam seribu bahasa yang tak pernah dikenal tuhan dan orang. ia ingin musik yang dapat mengalahkan tidur, air terjun, telinga mulut, air mata dan rambutnya merah karena taman yang dibangun dalam jiwanya telah menjelma gurun.

8.
bayi-bayi berjatuhan di jalan.
bayi-bayi berjatuhan di sungai.
bayi-bayi berjatuhan dari flat-flat.
bayi-bayi berjatuhan dari tanganku.
entah.
di senja hari menjelma ribuan koran dan saputangan.

9.
                jakarta sudah tak punya langit. kecuali atap-atap yang hitam. kalau ada sebersit sinar dari senter yang dinyalakan seorang geolog maka alis matanya berkedip dan sakit, bayang-bayangnya menusuk bumi sekuat-kuatnya.
                orang-orang berkata: aku akan tahu nanti sesudah tidur.

10.

                di mejaku ada surat panjang. amria menulis padaku: aku ingin sepotong dagingmu yang dingin, ingin kubuat sop dan sesudah itu ingin kucium bau dagingmu yang dingin. pergilah sekarang ke tukang potong. aku ingin melihat sepotong dagingmu menari di atas meja di atas paha.

11.
                sesudah itu kaubayangkan burung-burung bebas itu datang kepadamu berkicauan dan hinggap di tanganmu membuat sangkar dalam darahmu, lalu kaubayangkan lagi senja yang melipat burung-burung itu tampil merebut sangkar burung-burung itu, lalu kau bayangkan lagi kota dalam senja itu berlari kencang dalam darahmu — beribu otak dalam pikiran — dan burung-burung itu berteriak, lalu kaubayangkan perempuan-perempuan yang datang kepadamu semuanya adalah maut dan mereka kaupeluk semuanya dengan dua belah tangan……..

12.
                pikiranku sudah lelah. dalam pikiran adalah cinta dan kota-kota. entah di dunia mana kutertawakan kau yang masih berpikir tentang cinta dan kota-kota. hidup bukan kimia. hidup bukan susila. hidup bukan agama. dan berkata padamu:

                — perempuan, kemaluan yang di balik gaunmu itu betapa indah, aku ingin segenggam, aku ingin melihat kemaluanmu yang ajaib bagai airmata menari mengalun dan membuat musik baru dari pokok sungai.

                — demi keindahan, demi keindahanlah kukalungkan padanya mawar dan anggur agar bibirmu mengerang.

                — ya, ya…. tapi aku tak bisa menandaimu hanya karena kutang, gincu, topeng, celana dalam, anting ataupun ratapan….
                dan sesudah itu darah memukul gelombang, baru mulai sambil menggeleng-gelengkan kepala:
                inikah?

13.
suaraku dan suaramu sama paraunya sekarang. telingaku dan telingamu sama tulinya sekarang. cinta butuh kenikmatan. cinta butuh kehampaan. cinta butuh kehidupan, cinta butuh langit yang biru, cinta  butuh upacara. cinta butuh masa depan, cinta butuh sekedar tempat tidur……

14.
                setiap orang mengakhiri perjalanannya dan memulainya lagi dengan muka tengadah. jadi masih ada harapan. tapi mereka yang bercintaan bercintaan dengan kabut. mereka yang bergurauan bergurauan dengan mulut. mereka yang bersanggama bersanggama dengan lumut. bunga-bunga sudah letih dari perlambang-perlambang cinta. gurun yang membentang dalam hatiku dalam hatimu telah dipenuhi pengungsi-pengungsi dari utara dari selatan.

15.
kau harus ketawa. sedih tak sampai.
dan kutulis ini bukan puisi.

Meditasi, 1976
Budaya Jaya

Media Sosial

Follow Bilik Penyair on WordPress.com
Bacaan lain
Setebos