ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari
ia pandang sekeliling: matahari yang hilang-timbul di sela goyang daun-daunan, jalan setapak yang mendaki tebing kali, beberapa ekor capung –
ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini

Sihir Hujan, 1984
Dewan Bahasa & Pustaka

Media Sosial

Follow Bilik Penyair on WordPress.com
Bacaan lain
Puisi Cinta Tanpa Setitik Hiperbola di Dalamnya